David Livingstone
David
Livingstone tidak memiliki masa kanak-kanak yang menyenagkan. Ia, orang tuanya
dan keempat saudara – saudarinya tinggal dalam sebuah apartemen yang luasnya
sepuluh kali empat belas kaki di lingkungan apartemen Glasgow. Pada usia
sepuluh tahun, ia pergi bekerja di sebuah pengililingan kapas, tetapi tidak
menghabiskan seluruh hidupnya dalam penggilingan. Pada akhir dari setiap hari
kerja, ia pergi ke sekolah petang yang di sponsori oleh para pemilik penggilingan.
Ia belajar bahasa latin, botani,
teologi, dan matematika. Pada hari liburnya, Livingstone berjalan mengelilingi
kota, mengumpulkan batu dan tanaman untuk studi ilmu pengetahuannya.
Dibesarkan
dalam keluarga religuis, David melihat sebuah pamflet yang menjelaskan mengenai
kebutuhan akan seorang misionaris, seorang yang terlatih di bidang pengobatan.
Ia merasa terpanggil untuk mengambil tantangan ini. Pada usia dua puluh satu
tahun, ia telah diterima untuk masuk dalam pelatihan oleh London Missionary Society, dan ia mendaftar di Anderson
Colege di Glasgow.
Keninginnnya untuk menjadi misionari di Cina, tetapi karena Cina dan Inggris
sedang berperang ketika ia lulus menjadi dokter, maka perkumpulannya
mengirimnya ke Afrika. Di sana pada tahun 1841, ia memulai pekerjannya di
daerah Bostwana. Ia menulis “ Saya berharap... untuk bekerja selama hidup lebih
dari pada yang diinginkan orang lain dan menanam bibit Injil dimana orang lain
belum menanamnya”. Ia melakukannya.
Livingstone
menjadi orang kulit putih pertama yang melihat Danau Ngani dan Ait Terjun
Victoria. Dalam perjalannya, ia mengkonfrontasi perdagangan budak yang brutal
dan juga suku – suku yang menjual orang – orang tangkapan dari suku lainnya
kepada pedagang Arab yang memenuhi kebutuhan dari Sultan Zansibar. Livingstone
menulis bahwa “penyakit terbesar dari Afrika adalah hati yang patah”, dan ia
mengembangkan sebuah rencana untuk menarik perhatian dari pedagang Inggris ke
Afrika Tengah dengan sebuah harapan bahwa perdagangan yang resmi akan menghapus
perbudakan. Ia menarik perhatian dunia dengan tujuannya. Hal itu dilakukan
dengan membuat perjalanan transkontinental dari Atlantik ke timur ke arah mulut
sungai Zambesi di Mozambik.
Sisa hidupnya ,Livingstone menjelajahi
Aftika Tengah. Pada tahun 1871, beberapa tahun setelah dunia barat mulai
mempertanyakan apakah ia masih hidup, seorang koresponden asing dan dua koran
New York, Henry Morton Stanley dikirim untuk mencari Livingstone. Ia
menemukannya di Ujiji, sebuah pusat perdagangan pada tepi timur Danau
Tanganyika. Stanley dan Livingstone menghabiskan beberapa bulan bersama, dan
akibatnya artikel Stanley tentang kengerian perdagangan budak di terbitkan dalam the
New York Herald. Hal ini memercikan kekacauan yang mengakibatkan Sultan
Zanzibar menutup perdagangan budaknya beberapa tahun kemudian.
Walaupun beberapa ekspedisi
Livingstone dinilai gagal, ia dipuji sebagai seorang pahlawan yang telah pergi
ke tempat dimana tidak seorangpun kulit putihpun pernah pergi, bertahan
beberapa dekade di lingkungan yang sulit di Afrika, dan telah melakukan lebih
dari seseorang yang menghapuskan perdagangan budak Afrika. Ia mempunyai
reputasi dunia sebgai ahli Geografi, Astronomi, Entologi, Antropologi, ahli
Kimia dan Botani. Ia diterima secara universal sebagi seorang ahli untuk
kebudayaan Afrika Tengah dan Topografi. Ia juga termasuk salah seorang
misionaris pertama yang mendiskusikan secara terbuka alasan orang– orang afrika
tidak menerima Kekristenan pada abad ke 19: mereka kuatir kekristenan dapat
menghancurkan kehidupan sosial mereka, terutama poligami.
Sumber
: Buku You Can Be A World Changer,
Hal. 147- 149.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar