Senin, 13 April 2015

Sebuah Nama Sebuah Cerita




David Livingstone

David Livingstone tidak memiliki masa kanak-kanak yang menyenagkan. Ia, orang tuanya dan keempat saudara – saudarinya tinggal dalam sebuah apartemen yang luasnya sepuluh kali empat belas kaki di lingkungan apartemen Glasgow. Pada usia sepuluh tahun, ia pergi bekerja di sebuah pengililingan kapas, tetapi tidak menghabiskan seluruh hidupnya dalam penggilingan. Pada akhir dari setiap hari kerja, ia pergi ke sekolah petang yang di sponsori oleh para pemilik penggilingan. Ia  belajar bahasa latin, botani, teologi, dan matematika. Pada hari liburnya, Livingstone berjalan mengelilingi kota, mengumpulkan batu dan tanaman untuk studi ilmu pengetahuannya.
Dibesarkan dalam keluarga religuis, David melihat sebuah pamflet yang menjelaskan mengenai kebutuhan akan seorang misionaris, seorang yang terlatih di bidang pengobatan. Ia merasa terpanggil untuk mengambil tantangan ini. Pada usia dua puluh satu tahun, ia telah diterima untuk masuk dalam pelatihan oleh London Missionary Society, dan ia mendaftar di Anderson Colege di Glasgow. Keninginnnya untuk menjadi misionari di Cina, tetapi karena Cina dan Inggris sedang berperang ketika ia lulus menjadi dokter, maka perkumpulannya mengirimnya ke Afrika. Di sana pada tahun 1841, ia memulai pekerjannya di daerah Bostwana. Ia menulis “ Saya berharap... untuk bekerja selama hidup lebih dari pada yang diinginkan orang lain dan menanam bibit Injil dimana orang lain belum menanamnya”. Ia melakukannya.
            Livingstone menjadi orang kulit putih pertama yang melihat Danau Ngani dan Ait Terjun Victoria. Dalam perjalannya, ia mengkonfrontasi perdagangan budak yang brutal dan juga suku – suku yang menjual orang – orang tangkapan dari suku lainnya kepada pedagang Arab yang memenuhi kebutuhan dari Sultan Zansibar. Livingstone menulis bahwa “penyakit terbesar dari Afrika adalah hati yang patah”, dan ia mengembangkan sebuah rencana untuk menarik perhatian dari pedagang Inggris ke Afrika Tengah dengan sebuah harapan bahwa perdagangan yang resmi akan menghapus perbudakan. Ia menarik perhatian dunia dengan tujuannya. Hal itu dilakukan dengan membuat perjalanan transkontinental dari Atlantik ke timur ke arah mulut sungai Zambesi di Mozambik.
            Sisa hidupnya ,Livingstone menjelajahi Aftika Tengah. Pada tahun 1871, beberapa tahun setelah dunia barat mulai mempertanyakan apakah ia masih hidup, seorang koresponden asing dan dua koran New York, Henry Morton Stanley dikirim untuk mencari Livingstone. Ia menemukannya di Ujiji, sebuah pusat perdagangan pada tepi timur Danau Tanganyika. Stanley dan Livingstone menghabiskan beberapa bulan bersama, dan akibatnya artikel Stanley tentang kengerian perdagangan budak di terbitkan  dalam the New York Herald. Hal ini memercikan kekacauan yang mengakibatkan Sultan Zanzibar menutup perdagangan budaknya beberapa tahun kemudian.
            Walaupun beberapa ekspedisi Livingstone dinilai gagal, ia dipuji sebagai seorang pahlawan yang telah pergi ke tempat dimana tidak seorangpun kulit putihpun pernah pergi, bertahan beberapa dekade di lingkungan yang sulit di Afrika, dan telah melakukan lebih dari seseorang yang menghapuskan perdagangan budak Afrika. Ia mempunyai reputasi dunia sebgai ahli Geografi, Astronomi, Entologi, Antropologi, ahli Kimia dan Botani. Ia diterima secara universal sebagi seorang ahli untuk kebudayaan Afrika Tengah dan Topografi. Ia juga termasuk salah seorang misionaris pertama yang mendiskusikan secara terbuka alasan orang– orang afrika tidak menerima Kekristenan pada abad ke 19: mereka kuatir kekristenan dapat menghancurkan kehidupan sosial mereka, terutama poligami.

                                              Sumber : Buku You Can Be A World Changer, Hal. 147- 149.

Tidak ada komentar: