Senin, 13 April 2015

Cerpenku




Manusia Tak Bernama

Oleh:  Archimedes E. Lakapu
( Pencinta kehidupan )


Malam dingin membisu, kabut – kabut tipis beterbangan membungkus permukaan bumi. sesekali terdengar suara jangkrik saling beradu, entah apa yang mereka perdebatkan,aku tak tahu. Disebuah rumah di pojok jalan itu, dalam sebuah kamar yang sepi terlihat  waktu pada jam dinding menunjukan pukul 02.00 dini hari. Di atas tempat tidur tua, seorang wanita berbaring lelap walaupun raut wajahnya terlihat sangat lusuh dan gelisah. Aku mengenalnya. Ia ibuku.
Seperti yang sering kulakukan, aku ingin selalu datang padanya untuk melihat wajahnya, serta bayangan – bayangan masa depan yang mungkin akan terjadi seandainya peristiwa itu tak pernah terjadi. kususuri garis – garis awan pekat, melewati gerbang waktu dan pelan – pelan masuk ke dalam dunia mimpinya, karena hanya lewat mimpilah satu – satunya cara yang dapat kutempuh  agar dapat bertemu dengannya.
Sebuah episode kenyataan 7 tahun lalu kuputar dalam mimpi itu, cerita tentang suatu hari ketika aku sedang bermain – main, menendang – nendang dengan kaki mungilku, tiba – tiba sebuah benda asing masuk mematahkan kakiku, tanganku, menghancurkan badanku, meremukan kepalaku dan merenggut hidupku dalam kehangatan rahim ibuku. Aku dipaksa keluar dari sana sebelum waktunya. Serpihan – serpihan dagingku hancur tak berbentuk. Aku mati tak bernyawa.
Tidak, tidak, tidaaak…, Ibu tersentak, berteriak, meraung dan menangis pilu.  Ibukupun bangun merengkuh segelas air di atas meja samping tempat tidur itu, meminumnya lalu terus menangis dengan keras. Sesaat kemudian cerita itu dengan jelas diingat kembali oleh ibuku.
Di suatu hari yang biasa, ibuku tersadar akan keberadaan diriku dalam rahimnya akibat hubungan yang dilakukan oleh ibuku dan ayahku diwaktu yang tidak tepat, mereka dibuai oleh asmara sesaat yang membara dalam diri mereka saat umur mereka baru menginjak 17 tahun. Aku terbentuk, berlahan – lahan bertumbuh, aku merasakan bagaimana jantungku berdetak, profil wajahku terbentuk, tangan dan kakiku bergerak dan sering kubalik – balikan badan mungilku. Hal yang paling kurindukan adalah saat aku keluar dan tersenyum pada ibuku. Namun semua itu sirna ketika rasa malu dan amarah ayahku memaksa ibu untuk melakukan aborsi terhadap aku tepat setelah aku berusia 6 bulan dalam kandungan. Ibu dipaksa menuju klinik gelap milik seorang pembunuh kejam yang telah menghabiskan ribuan manusia tak bernama sepertiku. Aku meronta – ronta kesakitan hingga tak bernyawa ketika sebuah benda asing masuk dan menghancurkan setiap bagian tubuhku. Aku dipaksa keluar dari rumahku sendiri tanpa pernah diberitahukan. Hak hidupku dicabut oleh orang – orang yang menamakan dirinya manusia beradab, manusia bermoral, manusia yang mulia namun tega menghabiskan nyawaku dengan kejam seperti ini. Satu persatu bagian tubuhku dicabut, dan ditarik keluar dari rumahku. Bagian yang pertama ditarik adalah kedua kakiku, kaki yang pernah kuimpikan akan ku pakai untuk menjadi seorang bintang sepak bola seperti Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo, kemudian badan dan kedua tanganku yang mungkin akan kupakai untuk memeluk ibu dan ayahku, membantu orang lain, menulis cerita – cerita hebat, ataupun dapat kupakai membersihkan sampah kotaku yang menjijikan. Setelah itu kepalaku dihancurkan tak berbentuk, serpihan – serpihannya di keluarkan dan dimasukan kedalam baskom bersama dengan yang lainnya. Beberapa saat kemudian aku diambil dan dibuang ke tempat sampah. Ya… Aku dianggap setara dengan sampah – sampah yang membusuk. Aku manusia tak bernama, sampah yang tak dicintai oleh seorangpun. Aku tak pernah dikenal, tak pernah melihat indahnya pantai dan gunung, tak pernah melihat ikan – ikan yang bermain disungai, tak merasakan hangatnya mentari pagi dan belaian angin sore.
Siapakah yang harus kusalahkan? Pergaulan bebas orang tuaku, media massa dan elektronik yang kian berkembang menghasilkan berjuta tontonan dan bacaan berbau pornografi yang menghancurkan generasi muda, atau pemerintah yang tidak bertindak tegas terhadap pelaku pembunuhan terkejam yang menghilangkan 2.600.000 jiwa per tahun di Indonesia? Aku terdiam membayangkan kenyataan – kenyataan pahit yang menghantui generasi bangsa ini, generasi yang seharusnya berjuang melawan keterpurukan dan keterbelakangan, justru sibuk dengan kesia – siaan, sibuk dengan pemuasan diri sesaat, dan akhirnya menghancurkan hidupku dan berjuta sahabat yang lain dengan cara yang sadis.
……
Ibuku masih menangis, sekarang umurnya 24 tahun, masih muda, namun bayangan akan cerita itu tak pernah berhenti menghantuinya. Depresi yang dahsyat dirasakannya, ayahku telah pergi entah kemana meninggalkannya. Pernah ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya dengan sebotol racun serangga, namun Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk hidup. Ya.. ibu masih hidup, namun tak akan pernah mengandung lagi, setahun lalu ia di vonis mandul seumur hidup oleh dokter akibat kanker rahim yang dideritanya.
Ibu, aku tak bermaksud membuatmu bersedih dan terus merasa bersalah. Tapi aku sangat merindukanmu ibu, aku sangat menantikan saat – saat ketika kita bertemu nanti dan engkau tahu jika aku adalah anakmu. Aku akan selalu datang selayaknya seorang anak yang merindukan dekapan hangat bunda tercinta. Aku sangat menyayangi ibu. Aku manusia tak bernama.

…SELESAI….

Tidak ada komentar: