Manusia
Tak Bernama
Oleh: Archimedes E. Lakapu
( Pencinta kehidupan
)
Malam dingin membisu, kabut
– kabut tipis beterbangan membungkus permukaan bumi. sesekali terdengar suara
jangkrik saling beradu, entah apa yang mereka perdebatkan,aku tak tahu. Disebuah
rumah di pojok jalan itu, dalam sebuah kamar yang sepi terlihat waktu pada jam dinding menunjukan pukul 02.00
dini hari. Di atas tempat tidur tua, seorang wanita berbaring lelap walaupun raut
wajahnya terlihat sangat lusuh dan gelisah. Aku mengenalnya. Ia ibuku.
Seperti yang sering kulakukan,
aku ingin selalu datang padanya untuk melihat wajahnya, serta bayangan –
bayangan masa depan yang mungkin akan terjadi seandainya peristiwa itu tak
pernah terjadi. kususuri garis – garis awan pekat, melewati gerbang waktu dan
pelan – pelan masuk ke dalam dunia mimpinya, karena hanya lewat mimpilah satu –
satunya cara yang dapat kutempuh agar
dapat bertemu dengannya.
Sebuah episode kenyataan 7
tahun lalu kuputar dalam mimpi itu, cerita tentang suatu hari ketika aku sedang
bermain – main, menendang – nendang dengan kaki mungilku, tiba – tiba sebuah
benda asing masuk mematahkan kakiku, tanganku, menghancurkan badanku, meremukan
kepalaku dan merenggut hidupku dalam kehangatan rahim ibuku. Aku dipaksa keluar
dari sana sebelum waktunya. Serpihan – serpihan dagingku hancur tak berbentuk.
Aku mati tak bernyawa.
Tidak, tidak, tidaaak…, Ibu
tersentak, berteriak, meraung dan menangis pilu. Ibukupun bangun merengkuh segelas air di atas
meja samping tempat tidur itu, meminumnya lalu terus menangis dengan keras.
Sesaat kemudian cerita itu dengan jelas diingat kembali oleh ibuku.
Di suatu hari yang biasa,
ibuku tersadar akan keberadaan diriku dalam rahimnya akibat hubungan yang
dilakukan oleh ibuku dan ayahku diwaktu yang tidak tepat, mereka dibuai oleh
asmara sesaat yang membara dalam diri mereka saat umur mereka baru menginjak 17
tahun. Aku terbentuk, berlahan – lahan bertumbuh, aku merasakan bagaimana
jantungku berdetak, profil wajahku terbentuk, tangan dan kakiku bergerak dan sering
kubalik – balikan badan mungilku. Hal yang paling kurindukan adalah saat aku
keluar dan tersenyum pada ibuku. Namun semua itu sirna ketika rasa malu dan
amarah ayahku memaksa ibu untuk melakukan aborsi terhadap aku tepat setelah aku
berusia 6 bulan dalam kandungan. Ibu dipaksa menuju klinik gelap milik seorang
pembunuh kejam yang telah menghabiskan ribuan manusia tak bernama sepertiku.
Aku meronta – ronta kesakitan hingga tak bernyawa ketika sebuah benda asing
masuk dan menghancurkan setiap bagian tubuhku. Aku dipaksa keluar dari rumahku
sendiri tanpa pernah diberitahukan. Hak hidupku dicabut oleh orang – orang yang
menamakan dirinya manusia beradab, manusia bermoral, manusia yang mulia namun
tega menghabiskan nyawaku dengan kejam seperti ini. Satu persatu bagian tubuhku
dicabut, dan ditarik keluar dari rumahku. Bagian yang pertama ditarik adalah kedua
kakiku, kaki yang pernah kuimpikan akan ku pakai untuk menjadi seorang bintang
sepak bola seperti Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo, kemudian badan dan
kedua tanganku yang mungkin akan kupakai untuk memeluk ibu dan ayahku, membantu
orang lain, menulis cerita – cerita hebat, ataupun dapat kupakai membersihkan
sampah kotaku yang menjijikan. Setelah itu kepalaku dihancurkan tak berbentuk,
serpihan – serpihannya di keluarkan dan dimasukan kedalam baskom bersama dengan
yang lainnya. Beberapa saat kemudian aku diambil dan dibuang ke tempat sampah. Ya…
Aku dianggap setara dengan sampah – sampah yang membusuk. Aku manusia tak
bernama, sampah yang tak dicintai oleh seorangpun. Aku tak pernah dikenal, tak
pernah melihat indahnya pantai dan gunung, tak pernah melihat ikan – ikan yang
bermain disungai, tak merasakan hangatnya mentari pagi dan belaian angin sore.
Siapakah yang harus kusalahkan?
Pergaulan bebas orang tuaku, media massa dan elektronik yang kian berkembang
menghasilkan berjuta tontonan dan bacaan berbau pornografi yang menghancurkan
generasi muda, atau pemerintah yang tidak bertindak tegas terhadap pelaku pembunuhan
terkejam yang menghilangkan 2.600.000 jiwa per tahun di Indonesia? Aku terdiam
membayangkan kenyataan – kenyataan pahit yang menghantui generasi bangsa ini,
generasi yang seharusnya berjuang melawan keterpurukan dan keterbelakangan,
justru sibuk dengan kesia – siaan, sibuk dengan pemuasan diri sesaat, dan
akhirnya menghancurkan hidupku dan berjuta sahabat yang lain dengan cara yang
sadis.
……
Ibuku masih menangis,
sekarang umurnya 24 tahun, masih muda, namun bayangan akan cerita itu tak
pernah berhenti menghantuinya. Depresi yang dahsyat dirasakannya, ayahku telah
pergi entah kemana meninggalkannya. Pernah ia berpikir untuk mengakhiri
hidupnya dengan sebotol racun serangga, namun Tuhan masih memberikannya
kesempatan untuk hidup. Ya.. ibu masih hidup, namun tak akan pernah mengandung
lagi, setahun lalu ia di vonis mandul seumur hidup oleh dokter akibat kanker
rahim yang dideritanya.
Ibu, aku tak bermaksud
membuatmu bersedih dan terus merasa bersalah. Tapi aku sangat merindukanmu ibu,
aku sangat menantikan saat – saat ketika kita bertemu nanti dan engkau tahu
jika aku adalah anakmu. Aku akan selalu datang selayaknya seorang anak yang
merindukan dekapan hangat bunda tercinta. Aku sangat menyayangi ibu. Aku
manusia tak bernama.
…SELESAI….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar