PEMBERI IMPIAN ATAU PERAMPOK
IMPIAN ?
Ketika saya mengambil tema ini, pikiran saya tertuju pada
sosok orang biasa yang dalam keadaan kesakitan, kebingungan, keputusasaan dan
tanpa harapan saat berada di tengah – tengah gurun pasir yang luas. Impian yang
menggebu – gebu, sosok pemberi impian yang selama ini menolongnya seolah – olah
lenyap seiring terpaan badai pasir yang menghilangkan jejak – jejak langkahnya.
Dalam kehampaan, orang biasa berkata “ Engkau bukan Pemberi impian, Engkau adalah Perampok
impian”.Sebuah pernyatan yang jika kita selidiki dari awal cerita ini,
adalah pernyataan yang sangat mengejutkan.Mengapa demikian?
A.Pemberi
impian
Pemberi
impian menemui orang biasa dengan sehelai bulu putih yang mengingatkannya pada
impian yang telah lama hilang ditelan rutinitas yang biasa dilakukan setiap
hari. Hal ini membuat orang biasa mengambil keputusan untuk mengejar impian
itu. Dia yakin bahwa dia diciptakan untuk mengejar impian itu. Dengan sebuah
tekad, orang biasa memulai perjalanannya.
Dalam
cerita ini terlihat jelas bahwa yang paling menggerakkan orang biasa pada awal
perjalanannya adalah Impiannya. Sosok
pemberi impian seakan – akan hanya sebagai pengingat, penolong, dan penyerta. Impiannya
lebih besar dari segalanya bahkan melebihi Sang Pemberi impian. Ketika orang
biasa berada di tengah padang gurun, dengan berbagai cara dikejarnya impian itu
dengan caranya sendiri, jalan pintas, jalan mudah, namun sia – sia.
Saya
percaya bahwa Tuhan sebagai pemberi impian, jauh lebih besar dari impian itu
dan Dia peduli untuk kita melakukan impian yang telah dirancangNya. Tapi bukan
berarti ketika kita mulai mengerjakannya, kita lupa bahwa Dialah yang menjadi
sutradara dalam perjalanan impian itu. Dialah yang telah merancang perjalanan
itu dan kita harus melaluinya.
B. Perampok
Impian
Ketika orang biasa mengeluarkan pernyataan bahwa Pemberi
impian telah menjadi perampok impian, saya berpikir bahwa pada saat itu,
impiannya telah jauh lebih besar dari pada sang pemberi impian. Dia merasa
bahwa impiannya yang terutama, layak diperjuangkan tanpa berpikir lagi tentang
dari mana impian itu. Pikiran inilah yang membuatnya mencari jalan pintas untuk
mewujudkan impian itu.
Secara
sadar atau tidak sadar, kitapun dapat menyebut Tuhan sebagai perampok impian.
Kita telah berpikir bahwa untuk itulah kita diciptakan, impian itu adalah milik
kita dan berpikir bahwa Tuhan telah merampok semuanya dari kita tanpa berpikir
siapa yang memberikan impian itu, lalu kita berpikir untuk tidak mempercayaiNya
lagi karena semuanya telah diambil. Alangkah tragisnya hal ini.
C. impian
kita atau Impian Tuhan?
Impian kita atau impian Tuhan yang sedang kita
perjuangkan? Saya percaya bahwa sebelum kita meletakan impian itu dibawah
hadapan Tuhan, sesungguhnya kita hanya seperti musafir yang tersesat di padang
gurun tak berpengharapan. Biarkan Dia yang memberikan jalan iman untuk kita.
TRUGEN PUNG 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar