Kamis, 12 Maret 2015

Rencana Bisnis Ayam Potong

BISNIS AYAM POTONG

Aspek utama Bisnis Ayam Potong :
1.     Bibit Ayam
a.    Bibit ayam apa yang dibutuhkan? ( CP/ Wonokoyo?)
b.    Dari mana bibit Ayam berkualitas dapat diperoleh?
c.    Berapa jumlah bibit ayam yang diperlukan? ( berapa Box)
d.    Berapa harga bibit ayam yang diperlukan? ( Harga per Box )
e.    Bagaimana proses pengangkutan bibit ayam ke kandang?
f.    Berapa biaya yang diperlukan dalam proses pengangkutan bibit ayam ke kandang?
2.    Pakan
a.    Pakan apa yang dibutuhkan ayam dalam 1 periode produksi? ( Starter dan Finisher )
b.    Berapa jumlah pakan yang dibutuhkan dalam 1 periode produksi? ( Berapa karung )
c.    Darimana pakan tersebut dapat diperoleh?
d.    Bagaimana proses pengangkutan pakan ke kandang?
e.    Apakah ada biaya yang diperlukan dalam proses pengangkutan pakan?
f.    Berapa harga pakan yang dibutuhkan dalam 1 periode produksi?
g.    Apakah ada pakan tambahan yang dibutuhkan dalam 1 periode produksi?
3.    Kandang
a.    Kandang seperti apa yang diperlukan dalam mendukung pertumbuhan ayam? ( Terbuka / Tertutup, Permanen atau semi permanen)
b.    Berapa ukuran kandang yang dapat menampung ayam dalam 1 periode?
c.    Apakah ada kemungkinan terjadi peningkatan jumlah ayam yang dipelihara?
d.    Bahan – Bahan apa saja yang diperlukan dalam membangun kandang?
( Atap, penyangga, dinding, lantai, pintu, ventilasi )
e.    Bagaimana memberoleh bahan – bahan tersebut?
f.    Alat – alat apa saja yang diperlukan untuk membangun kandang?
g.    Bagaimana memperoleh alat – alat tersebut?
h.    Siapa yang membangun kandang?
i.     Berapa biaya yang dikeluarkan untuk membangun kandang?
j.     Perlengkapan apa saja yang diperlukan dalam operasional kandang?
k.    Bagaimana memperoleh perlengkapan2 tersebut?
l.      Berapa harga yang diperlukan untuk memperoleh perlengkapan tersebut?
4.    Obat – Obatan
a.    Obat – obatan apa yang diperlukan ayam untuk bertumbuh dalam 1 periode produksi?
b.    Bagimana memperoleh obat – obatan tersebut?
c.    Berapa harga yang diperlukan untuk memperoleh obat – obatan tersebut?
5.    Manajemen
a.    Manajemen pakan
·         Berapa banyak ransum yang dibutuhkan ayam dalam sehari?
·         Bagimana memastikan kebutuhan ransum terpenuhi dalam sehari?
·         Bagaiman cara mengatasi kekurangan ransum?
·         Bahan pakan apa yang dapat ditambahkan dalam ransum?
·         Bagaimana cara pemberian ransum?
b.    Manajemen limbah
·         Berapa banyak limbah yang dihasilkan dalam 1 periode produksi?
·         Apa dampak limbah tersebut bagi pertumbuhan ayam?
·         Apa solusi yang dilakukan?
·         Bagaimana menerapkan solusi tersebut?
·         Berapa biaya yang diperlukan dalam menerapkan solusi tersebut?
·         Apakah limbah tersebut dapat dimanfaatkan?
·         Bagaimana pemanfaatannya?
c.    Manajemen perkandangan
·         Apakah kandang memberikan kenyamanan bagi pertumbuhan ayam?
·         Apakah ada peluang terjadinya stres pada ayam?
·         Bagaimana mengatasi stres tersebut?
·         Apakah perlengkapan kandang memadai?
·         Apakah lokasi kandang memenuhi standar?
d.    Manajemen penyakit
·         Penyakit apa yang sering melanda ayam?
·         Apa dampaknya bagi bisnis?
·         Mengapa Penyakit itu dapat terjadi?
·         Bagaimana mencegah penyakit itu terjadi?
·         Bagaimana pengobatan penyakit tersebut?
·         Bagimana cara mendapat obat – obatan tersebut?
·         Berapa biaya yang diperlukan dalam pengobatan?


e.    Manajemen Resiko
·         Resiko Penyakit
v  Apakah bibit ayam yang diperoleh telah divaksin?
v  Apakah ada kemungkinan bibit ayam mati dalam proses pengangkutan ke kandang?
v  Apakah dalam 1 periode produksi ada kemungkinan matinya ayam?
v  Bagaimana solusinya?
·         Resiko Keamanan
v  Apakah ayam aman dari ancaman predator?
v  Apkah ayam aman dari hujan dan panas?
v  Apakah ayam aman dari pencuri?
v  Apakah kandang aman dari kebakaran?
·         Resiko pasar
v  Bagaimana tingkat persaingan pasar?
v  Bagaimana jika ayam tidak laku?
v  Bagaimana solusinya?

Aspek Pendukung :
1.     Lingkungan
a.    Apakah kandang jauh dari pemukiman?
b.    Apakah dekat dengan sumber air?
c.    Bagimana memperoleh listrik?
d.    Apakah dampak terhadap lingkungan?
2.    Pasar
a.    Apakah lokasi usaha dekat dengan pasar?
b.    Bagaimana kebutuhan pasar akan ayam potong?
c.    Bagimana proses pemasaran?
d.    Apakah media yang digunakan dalam pemasaran?
e.    Kepada siapa ayam potong dipasarkan?
f.    Dimana ayam potong dapat dipasarkan?
g.    Berapa harga yang dikenakan pada 1 ekor ayam?
h.    Apakah menguntungkan?




Jenis-Jenis Kulit Ternak


1.      Jenis Kulit Berdasarkan Asal Hewan
  1. Hewan ternak : sapi, kerbau, kuda, kambing, domba, babi.
  2. Hewan melata : buaya, biawak, komodo, ular, kodok
  3. Hewan air: ikan pari, ikan kakap, ikan tuna
  4. Hewan liar: gajah, harimau
  5. Burung : burung unta, ayam
2.      Pembagian Kelompok Kulit
    1. Kulit besar (sapi,kerbau, kuda, gajah)
    2. Kulit kecil (kambing, domba, kijang, kelinci)
    3. Kulit reptil (ular, buaya, biawak, kadal, kodok)
    4. Kulit ikan (pari, hiu, tuna).

Kualitas kulit dari hewan yang dagingnya di konsumsi :
1)      Kulit Sapi
Sapi banyak dikonsumsi masyarakat luas, kulitnya banyak dibutuhkan dalam industri kerajinan, karena kepadatan kulitnya yang memberikan kekuatan, ukurannya lebih lebar, tebal dan hasilnya lebih mengkilat. Bahkan bagian dalam kulit hasil split dapat diperdagangkan secara terpisah,misalnya untuk pakaian dalam yang tipis tetapi cukup kuat.
2)      Kulit Kerbau
Kulit kerbau tidak jauh beda dengan kulit sapi, baik dari ukuran, kekuatan, dan keuletannya. Hanya saja kulit kerbau lebih tebal sedikit dibanding kulit sapi.
3)      Kulit Kambing
Kulit kambing banyak terdapat di Indonesia dan digunakan sebagai bahan baku pembuatan barang kerajinan. Ukurannya tidak terlalu lebar, sekitar 28 x 28 cm dengan hasil samakan mengkilap dan ada pula yang berwarna. Kualitasnya berbeda-beda berdasarkan jenis kulit hasil pengolahannya.
4)      Kulit Domba
Selain ukurannya yang agak kecil dan bentuknya memanjang, kulit domba tidak banyak berbeda dengan kulit kambing.

3.      Jenis Kulit Berdasarkan Istilahnya
1)      Kulit Batik
Kulit jadi dibuat dari domba/kambing
2)      Kulit Beledu
Kulit jadi dari kerbau, sapi, kuda, domba, kambing, dsb. yang disamak krom yang bagian nerf (permukaannya) diamplas halus; biasanya digunakan untuk sepatu, jaket, dan lain-lain.
3)      Kulit Boks (Full grain, corrected grain).
Kulit jadi yang umumnya dibuat dari kulit sapi dan lazim digunakan untuk kulit sepatu bagian atas (upperleather).
4)      Kulit Split
Kulit jadi dari sapi, kuda, kerbau, yang dibelah dengan mesin belah yang menghasilkan 2 bagian atau lebih, yaitu bagian nerf (grain split) dan daging (flesh split) yang digunakan untuk sepatu, sandal, ikat pinggang, dan sebagainya.
5)      Kulit Glace
Kulit matang dari kulit sapi, kuda, kerbau, domba, kambing yang disamak krom yang biasa digunakan untuk pembuatan sepatu wanita.
6)      Kulit Jaket
Kulit jadi/matang yang umumnya dibuat dari kulit domba, kambing yang lazim disamak krom dan umumnya digunakan untuk jaket.
7)      Kulit Kering
Kulit segar yang telah dikeringkan, biasanya dengan cara dijemur pada sinar matahari.
8)      Kulit Lapis (Lining)
Kulit jadi/matang dari kulit domba, kambing, sapi, kerbau yang lazim disamak nabati, diwarna atau tidak diwarna yang digunakan untuk pelapisan.
9)      Kulit Lap
Kulit jadi dari kulit domba, kambing yang disamak minyak dan diamplas pada bagian nerf hingga menghasilkan kulit lunak, rata dan lemas; biasanya digunakan untuk lap kaca, optik, dan lain-lainnya.
10)  Kulit Perkamen
Kulit mentah yang sudah dalam keadaan kering dan digunakan untuk pembuatan wayang, kap lampu, penyekat, kipas, bedug, dan sebagainya.
4.      Jenis Kulit Berdasarkan Kualitasnya
1)      Bagian punggung
Bagian kulit yang letaknya ada pada punggung dan mempunyai jaringan struktur yang paling kompak; luasnya 40 % dari seluruh luas kulit.
2)      Bagian leher
Kulitnya agak tebal, sangat kompak tetapi ada beberapa kerutan
3)      Bagian bahu
Kulitnya lebih tipis, kualitasnya bagus, hanya terkadang ada kerutan yang dapat mengurangi kualitas.
4)      Bagian perut dan paha
Struktur jaringan kurang kompak, kulit tipis dan mulur. Walaupun proses pengolahan atau pengawetan kulit telah dilakukan dengan hati-hati dan menurut ketentuan yang benar, namun ternyata hasilnya tidak selalu seperti yang diharapkan. Kemungkinan setelah kering, kulit menjadi tidak sama kualitasnya.
5.      Pembagian Kelas Kulit Berdasarkan Berat
Perbedaan kelas kulit mentah baik kulit sapi ataupun kerbau dapat diketahui melalui berat tiap-tiap lembar kulit. Untuk menentukan tingkatan berat ini digunakan tanda abjad (alfabet). Adapun penggolongan kulit berdasarkan beratnya dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Kelas A                   : kulit yang beratnya 0 kg – 3 kg/lembar.
2. Kelas B                   : kulit yang beratnya 3 kg – 5 kg/lembar.
3. Kelas C                   : kulit yang beratnya 5 kg – 7 kg/lembar.
4. Kelas D                   : kulit yang beratnya 7 kg – 9 kg/lembar.
5. Kelas E                   : kulit yang beratnya 9 kg/lembar atau lebih,
Sedangkan untuk menunjukkan kulit sapi diberi tanda Z.
Pembagian kelas kulit mentah sapi dan kerbau berdasar beratnya, juga dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Kelas ringan         : kulit yang beratnya 1 kg – 6 kg/lembar.
2. Kelas sedang I      : kulit yang beratnya 6 kg – 8 kg/lembar.
3. Kelas sedang II     : kulit yang beratnya 8 kg -10 kg/lembar.
4. Kelas berat I         : kulit yang beratnya 10 kg -15 kg/lembar.
5. Kelas berat II        : kulit yang beratnya lebih dari 15 kg/lembar.
Kualitas Kulit Kambing/Domba
Persyaratan penentuan kelas kur kambing/domba, secara garis besar tidak jauh berbeda dengan penentuan kelas pada kulit sapi dan kerbau. Namun kulit kambing tidak ditentukan berdasarkan beratnya, melainkan berdasarkan panjang tengah-tengah dari ekor hingga leher, dan lebarnya kulit. Oleh karena itu pembagian kelas kambing/domba dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Kelas I                    : kulit yang panjangnya 100 cm, lebar 70 cm.
2. Kelas II                 : kulit yang panjangnya 100 cm, lebar 60 cm
3. Kelas III                 : kulit yang panjangnya 90 cm, lebar 55 cm.
4. Kelas IV                 : kulit yang panjangnya 80 cm, lebar 50.
5. Kelas V                   : kulit yang panjangnya 70 cm, lebar 45 cm.
6. Kelas afkir            : kulit yang panjangnya kurang dari 70 cm.